Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Pemulung Untung dari Kerajinan Koran Bekas

Pemulung Untung dari Kerajinan Koran Bekas

1. Pemulung Untung dari Kerajinan Koran Bekas
2. Awal usaha
3. Proses Produksi
4. Pemasaran
5. Berbagi Keterampilan



Pemulung Untung dari Kerajinan Koran Bekas

Pemulung Untung dari Kerajinan Koran Bekas - Menghasilkan karya yang unik, sebenarnya bisa dimulai dengan memanfaatkan material sekitar, seperti yang dilakukan Sri Mulyani.

Wanita yang berdomisili di wilayah Manggarai Jakarta Selatan ini, mampu mengubah koran bekas yang sudah tidak terpakai menjadi sebuah barang yang tidak hanya unik, tetapi juga memiliki nilai jual..



Awal usaha

Berawal dari idenya untuk memanfaatkan tumpukan koran di dalam rumah, Mulyani, begitu dia biasa disapa, mulai mencoba membuat anyaman dari lintingan kertas koran menjadi sebuah barang utuh.

Secara otodidak, dia mengaku banyak belajar dengan melihat buku pengetahuan tentang kerajinan. Ditambah lagi hobinya dalam berkerajinan tangan, membuat niat menciptakan sesuatu semakin kuat.

"Setelah saya berpikir koran menumpuk banyak, kayanya dijual pun nggak ada harganya, saya buka buku untuk berkreasi, karena memang hobi saya kerajinan tangan. Saya lihat koran bisa dibikin, dari situ awalnya saya buat kerajinan ini. Teman-teman yang datang berminat, ada yang pesan. Alhamdulillah sekarang berkembang, macam-macam produknya," ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, baru-baru ini.

Sebelum memulai membuat produk dari koran bekas, Mulyani bekerja sebagai staff finance pada sebuah perusahaan IT. Namun begitu keluar dari pekerjaannya, dia mulai berpikir agar tetap bisa menghasilkan uang namun dengan cara yang berbeda.

"Setelah saya keluar dari kerja, saya kepikiran mau buat apa, karena tidak menghasilkan apa-apa lagi, tidak dapat uang yang biasanya saya terima tiap bulan," tutur dia.

Pada bulan Oktober 2010, dengan hanya bermodalkan koran bekas, lem dan cat, Mulyani mulai menekuni kerajinan ini di sebuah workshop rumahan bernama `Gaweanku`.

Proses pembuatan produk dari koran bekas ini bisa dikatakan sedikit rumit, karena membutuhkan keterampilan teknik mengayam.



Proses produksi
Ingin tahu bagaimana proses pembuatannya?. Awalnya, koran bekas yang ada dipotong memanjang kemudian dilinting dengan menggunakan sebatang lidi. Setelah menjadi lintingan, kemudian dianyam sesuai dengan bentuk barang yang ingin dibuat.

Untuk membuat sebuah tempat pensil contohnya, paling tidak dibutuhkan sekitar 30 lintingan koran. Agar lebih kokoh, anyaman koran bekas yang sudah berbentuk tersebut dibalur dengan lem dan diberi warna untuk mempercantik tampilannya. Dalam sehari, Mulyani mampu menghasilkan 10-15 buah produk.

Untuk bahan baku berupa koran bekas, Mulyani biasanya mendapatkan secara cuma-cuma dari teman atau saudaranya. Namun sebagai ucapan terima kasih, biasanya dia membalasnya dengan memberikan produk yang telah dibuat.




Pemasaran

Hingga saat ini, beragam produk telah berhasil dia buat seperti tempat tisu, alas piring, tutup saji, tempat pensil, vas bunga kecil, keranjang pakaian, tempat sampah, keranjang parcel, tempat permen, alas gelas, ornamen rumah adat, kap lampu, bahkan hingga bentuk hewan dengan ukuran yang cukup besar. Tiap produk tersebut dijual dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 400 ribu.

Produk yang paling laku banyak dipesan seperti tempat pensil, vas bungan, alas gelas dan juga keranjang. Tak hanya membuat produk, pada moment-moment tertentu dia juga berinovasi dengan membuat semacam parcel dimana keranjangnya berasal dari anyaman koran bekas tersebut kemudian diisi dengan cokelat, permen atau isian parcel lainnya.

Muryani biasanya menjual produknya tersebut melalui pameran, bazar, dan juga pemesanan melalui internet dengan omset sekitar Rp 1-2 juta per bulan.

Pemesan produknya ini dari berbagai macam daerah seperti terjauh berasal dari Ambon dan Manado. Dia sendiri belum memiliki toko khusus yang menjual produk-produknya tersebut, namun suatu saat dia ingin memiliki tempat dimana dia memajang dan menjual hasil karyanya ini.

Dalam pembuatan produknya, Mulyani biasanya dibantu oleh 4 orang pengrajin yang masih memiliki ikatan saudara. Selain membuat sendiri, dia juga sering membuat pelatihan.



Berbagi keterampilan

Tak cuma memakai keahlian mencari rezeki, Sri Mulyani memiliki keinginan mulia lain. Setiap hari Minggu dia mendedikasikan diri melatih anak-anak dhuafa dan jalanan di wilayah Bekasi, untuk membuat kerajinan.

Hal ini dilakukannya dengan harapan memberi anak-anak tersebut memiliki kemampuan untuk membuat produk dan menghasilkan uang dari jerih payah mereka sendiri.

Selain itu, dia juga sering meminta untuk memberikan pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga di wilayah Pasar Minggu. Bahkan dia pernah diminta melakukan pelatihan hingga ke Palembang.

Dalam berwirausaha, Mulyati kerap menghadapi kendala, salah satunya yaitu dalam hal pemasaran. Dia mengaku masih sulit dalam menjual barang-barang hasil karyanya ini.

Bahkan ketika dia mengajak orang untuk membuat karya seperti ini, banyak yang menanyakan bagaimana cara memasarkan produk tersebut.

"Ketika saya bikin pelatihan banyak yang tanya pemasarannya bagaimana, makanya saya bikin program CSR untuk mengajak ibu-ibu dan anak remaja untuk membuat ini, saya menghubungkan ke pihak CSR untuk memasarkan," kata wanita kelahiran Jakarta, 7 Juli 1962 ini.

Kedepannya, Mulyani berharap usahanya ini mampu berkembang, agar koran bekas ini tidak lagi dianggap sampah yang tidak ada nilainya.

Tetapi koran-koran ini bisa digunakan dan bisa membantu para pengrajinnya untuk menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan tambahan secara ekonomi.

Dia juga mempunyai cita-cita untuk memiliki sekolah kerajinan agar bisa mengembangkan segala macam bentuk kerajinan tangan yang ada di Indonesia.

"Ingin punya sekolah kerajinan, sekolah itu nantinya subsidi silang jadi ada yang tidak mampu dan ada yang mampu untuk membayar, kerajinan apa saja. Enaknya ketemu teman baru, banyak teman, berbagi dengan yang lain sehingga bukan saya saja yang bisa tapi orang lain juga bisa," tandasnya 




Terima kasih sudah membaca artikel yang berjudul Cara Membuat Lampion
Cantik dari Benang Wol
, semoga bermanfaat.


Bermodal Gedebok Pisang, Supartini Sukses Ekspor Kerajinan Ke Jepang dan Eropa







Bersama Rekannya

SURABAYA  – Bersama rekan-rekannya, ibu yang enerjik ini menyulap barang tak berharga menjadi kerajinan yang indah dan sedap dipandang mata. Ada lho boneka pelepah yang begitu cantik dengan beragam bentuk. Mau lihat karyanya?

Bagi Supartini atau yang biasa disapa dengan Tien Soebandiri (61), aneka limbah kertas dan dedaunan kering bukan sampah tak berguna. Di tangan terampilnya, barang-barang tak berharga itu disulap menjadi kerajinan cantik dan menarik. Banyak ragam karya yang dibuat. Salah satu yang terlihat paling unik adalah kerajinan boneka berbahan pelepah pisang yang tingginya sekitar 25 cm ini, selain lucu juga tampak unik sekali.

Ratusan Kerajinan

Boneka dan ratusan macam kerajinan karyanya, oleh Tien ditata rapi di atas bufet di ruang tamu rumahnya yang luas di Jalan Ciliwung 15 Surabaya. Lebih menarik lagi, bentuk boneka pelepah pisang itu begitu beragam. Ada lelaki tengah menunggang gang kuda lumping, seorang ibu membatik, wanita desa mengenakan baju mirip kimono, seorang bidadari lengkap dengan sayapnya, pak tani yang meniup seruling dan masih banyak lagi.

Di tangan Supartini atau lebih dikenal dengan nama Tien Soebandiri, limbah pelepah pisang bisa disulap menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.

”Pada dasarnya saya suka berkreasi dengan kerajinan dari bahan apa pun. Kalau kelobot atau kulit jagung dan daun kering rasanya sudah sering, saya iseng coba pelepah pisang waktu itu,” kata wanita dengan empat cucu ini.

Idenya Sederahana


Idenya sederhana, menjadikan pelepah pisang sebagai produk kerajinan khas lokal yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. ”Suami saya kalau ke luar negeri sering beli kerajinan khas negara tersebut. Kebanyakan berupa boneka. Saya terinspirasi dari situ, menjadikan pelepah pisang sebagai boneka yang mudah ditenteng wisatawan,” kata wanita berusia 66 tahun ini.

Awalnya, ia hanya bermodal satu gedebok pisang yang sudah dikeringkan untuk diuji coba. Bahannya, kawat sebagai kerangka, lem dan benang untuk rambut. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm, kerangkanya dari botol. Baju boneka bisa di-mix pelepah pisang kering, kelobot, kepompong, dan daun kering. Untuk rambutnya, bisa terbuat dari serabut jambe atau potongan tali karung.

”Saya bikin 2–4 boneka sebagai contoh. Setelah direspons, barulah bikin dalam jumlah banyak. Order terbanyak ekspor ke Jepang dan Eropa, tapi tidak ekspor langsung melainkan lewat buyer dari Jakarta yang mengirimkan ke sana,” ujar Tien saat ditemui di rumahnya di Jalan Ciliwung, Surabaya.

Untuk boneka yang kecil-kecil setinggi 20 cm, harganya berkisar Rp 50.000–Rp70.000, sedangkan yang berukuran besar antara Rp 100.000–Rp 150.000. Harga bisa menyesuaikan sesuai order dan tingkat kerumitan pembuatan baju. ”Saya tidak ready stock, hanya by order. Stok yang ada ini hanya untuk contoh. Tiap bulan tak selalu ada order karena kerajinan saya tak hanya boneka, tapi ada bunga kering dan kerajinan lainnya. Kalau order boneka sepi, omzet di-cover dari kerajinan yang lain,” lanjut mantan Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan Bunga Buatan (Aspringta) Surabaya ini.

Order Paling Ramai


Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka limbah ini untuk dijadikan sebagai suvenir. Untuk kebutuhan gedebok pisang, ia pesan langsung dari Yogyakarta, Mojokerto, dan Sidoarjo.

”Kalau pas musim kemarau, saya beli gedebok banyak untuk stok saat musim hujan karena susah dapat gedebok bagus, rata-rata gampang busuk dan rusak,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 14 Maret ini.

Sekali mengirim gedebok kering sampai 10 kg dengan harga Rp 175.000–Rp 200.000. Ia sengaja tidak memesan gedebok basah karena proses pengeringannya harus secara manual dan itu memakan waktu lama. ”Tak semua gedebok kering itu bisa dipakai, saya pilih serat yang bagus, yang cacat dibuang. Jadi 10 kg gedebok kering bisa menghasilkan 50 boneka kalau ukurannya besar, tapi untuk boneka ukuran kecil bisa 100 boneka. Itu jatah sebulan,” kata Tien yang melibatkan puluhan ibu-ibu perajin untuk pembuatannya.

Pembuatan Mudah


Proses pembuatan boneka pelepah pisang tidak terlalu rumit. Gedebok kering direndam 60 menit dengan cairan H2O2 (hidrogen peroksida). Harga cairan ini Rp 350.000 per galon. Jangan terlalu lama direndam karena bisa getas. Angkat, lalu cuci bersih, diangin-angin sebentar, jangan dijemur di bawah terik matahari. Masuk proses pewarnaan dengan sitrun selama 20 menit. Angkat, lalu keringkan secara manual. Setelah itu baru disetrika, lalu digunting sesuai kebutuhan.

”Dari unsur kepompong kering dan daun kering, seperti daun sirsak, saya buat untuk aksesori boneka berupa bros cantik. Proses pengeringannya hampir sama, cuma harus lebih telaten karena gampang rusak,” kata wanita yang tiap bulannya bisa meraup omzet Rp 5 juta dari usaha ini.

LEMBUT DAN CERAH
Lebih lanjut Tien mengungkapkan, sebenarnya membuat boneka pelepah pisang prosesnya sederhana saja. Namun, dalam pengerjaannya dibutuhkan keterampilan untuk menghasilkan boneka yang bagus. Yang jelas harus telaten. Kalau tidak, hasilnya kelihatan kasar,” imbuh istri Prof. Dr. Soebandiri, SpPD, KHOM tersebut.

Langkah awal membuat boneka ini, tutur Tien, adalah membuat kerangka yang terbuat dari kawat. Setelah dibentuk sesuai dengan keinginan, kerangka dibalut dengan kertas koran dan dilem. “Selanjutnya barulah dilapisi dengan pelepah pisang yang sudah diproses,” kata Tien.

Bagaimana cara memproses pelepah pisang agar hasilnya bagus? Prosesnya juga tidak sulit. Agar lebih bersih, pelepah pisang direndam beberapa saat dengan bahan kimia H2o2 atau peroxid. “Tak boleh merendam terlalu lama, nanti malah merusak pelepah itu. Usai direndam, dijemur sampai kering. Hasilnya, selain pelepah jadi lembut, warnanya juga tampak lebih cerah. Teksturnya pun begitu indah.

Menurut ibu empat anak ini, ide membuat kerajinan berbahan pelepah pisang, sebenarnya hanya sekadar coba-coba. Sebelumnya, ia membuat boneka dari kulit jagung yang sudah dikeringkan. Ide ini disampaikan kepada Nanik, salah seorang mantan murid yang kini jadi rekan kerjanya.

“Ketika sama-sama kami praktikkan, hasilnya ternyata memang bagus. Sejak itu, kami mengembangkan kerajinan ini,” papar Tien yang menjalankan aktivitasnya karena hobi. “Berdagang bukan tujuan saya satu-satunya. Tapi, kalau ada pameran, kami selalu tampil.”

Ternyata, karya-karya Tien begitu diminati masyarakat. Lewat informasi dari mulut ke mulut, banyak pembeli datang ke rumahnya. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Mereka tertarik dengan boneka yang bentuknya beragam itu.

“Yang disukai turis asing justru boneka bentuk tradisional, misalnya boneka pak tani. Boneka yang bentuknya kebarat-baratan, mereka malah tak seberapa suka,” ujar Tien yang karyanya sudah merambah berbagai negara. “Ekspornya tidak besar-besaran kok. Saya mengirim ke Spanyol maupun Brunei dalam jumlah terbatas,” lanjutnya merendah. (fn/km/tn)

sumber: http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/40062-omzet-menggoda-dari-ekspor-boneka-limbah-hingga-jepang-a-eropa.html

Cara Membuat Emas dari Sampah

SAMPAH-sampah yang berserakan di sepanjang jalan di Gang Kurnia, Lingkungan VII, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, membuat gundah hati Chaidirsyah Dudung. Dia heran kenapa lingkungannya tidak pernah bersih, padahal setiap hari disapu, sampahnya dibuang ke tempat sampah. Parit-parit di depan rumah juga tersumbat karena banyaknya tumpukan sampah yang tidak hanyut terbawa arus parit, sehingga menjadi banjir.
Lelaki 63 tahun ini bingung, bagaimana bisa lingkungannya sekotor itu, sedangkan kesadaran masyarakatnya belumlah tinggi, apalagi soal kebersihan. Maklumlah, di sekitar tempat tinggal Kepala Lingkungan VII yang biasa disapa CH Dudung ini, rata-rata warganya berprofesi sebagai penjahit dan pedagang makanan ringan, sehingga sampah-sampah dibuang begitu saja.
“Banyak sampah ketika itu. Ada sampah kain percah, sampah wadah minuman air mineral dari yang cup hingga botol besar. Itu semua dibuang sembarangan tempat dan masuk ke parit ketika hujan turun,” ucap CH Dudung ketika menceritakan kisah inspiratifnya, ‘Membuat Sampah Jadi Emas’, pada Lomba Bercerita  Kisah Inspiratif Implementasi STBM, di Asean International Hotel Medan, Selasa (3/9).
Hingga suatu saat, CH Dudung mendapatkan inspirasi, bagaimana cara mengatasi sampah di lingkungannya. Kebetulan saat itu, sebuah lembaga bernama High Five yang disponsori USAID, melakukan sosialisasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang mengusung Lima Pilar, diantaranya, jaga makanan dan minuman kita agar terbebas dari kuman, biasakan cuci tangan pakai sabun, stop buang air besar sembarangan, buang sampah pada tempatnya dan alirkan air buangan rumah ke selokan supaya tidak ada genangan.
Keyakinannya untuk memanfaatkan sampah menjadi barang berharga bertambah, ketika Pak CH Dudung secara kebetulan mengunjungi sebuah stand di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) di Tapian Daya, Jalan Gatot Subroto, Medan. Disitu CH Dudung tertarik dengan sebuah keramik yang sangat ringan, yang dipamerkan di stand PRSU tersebut.
 “Saya bertanya kepada penjaga stand, kenapa keramik ini ringan, bukankan keramik itu berat. Lalu si penjaga stand mengatakan, kalau keramik itu terbuat dari bungkus rokok dan harganya mencapai Rp 250.000. Saya pun heran sambil terkagum-kagum, kenapa sampah bisa memiliki nilai tinggi? Nah dari situlah saya terinspirasi memanfaatkan sampah di lingkungan tempat tinggal saya untuk menjadi barang yang sangat berharga,” tukas CH Dudung.
Kemudian bersama tutor dari High Five, CH Dudung pun mulai serius mempelajari bagaimana membuat keramik yang terbuat yang terbuat dari bungkus rokok, membuat keset kaki dari kain percah, membuat bingkai photo dari kertas karton, serta memanfaatkan botol plastik dan kaleng bekas yang diubah menjadi vas bunga dan souvenir lain sebagainya.
Begitu juga dengan sampah organik, CH Dudung bersama binaan High Five lainnya, memanfaatkan sisa limbah rumah tangga seperti, nasi busuk, sayuran yang tak terpakai hingga buah-buahan, untuk diolah menjadi pupuk organik.
“Alhamdulillah, 2 tahun mendapat ilmu dari High Five, kami sudah bisa mengubah sampah menjadi emas. Mengubah sampah menjadi emas hanyalah kiasan saja, namun intinya, semula sampah menjadi barang yang tak berharga, sekarang menjadi berharga. Kalau cukup uang bisa beli emas,” canda CH Dudung yang telah memperoleh predikat Kepling Terbaik Se Kota Medan pada Tahun 2012 lalu.
Tapi menurutnya, bukan itulah intinya, tapi bagaimana mengubah prilaku masyarakatnya dengan tidak membuang sampah sembarangan lagi. Itu hanya memotivasi, dan buktinya, masyarakat sudah tidak membuang sampah di sembarang tempat lagi.
Buktinya, saat ini warganya tidak lagi membuang sampah di jalan atau pun parit. Setiap sampah-sampah yang mau dibuang, terlebih dahulu dikumpulkan di tempat yang tersedia di rumah masing-masing. Sampah itu pun dipilah-pilah, mana sampah yang organik dan yang non organik.
Saat ini, CH Dudung sudah memiliki 20 kader binaan. Mereka inilah yang mengutip sampah-sampah dari masyarakat dan dikumpulkan di Bank Sampah. Saking banyaknya sampah, CH Dudung sampai kewalahan, sehingga sebagian sampah itu di lempar ke pengepul. Sedangkan jumlah penghasilan dari olahan sampah itu, menurut CH Dudung, tidaklah sepadan dengan pengeluaran mereka. Tapi tujuannya bukanlah mencari untung, melainkan mengubah perilaku masyarakatnya, seperti yang dikatakannya.
Namun, kendalanya saat ini, barang-barang kerajinan yang mereka buat sulit untuk dipasarkan. Terlebih ketika Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Medan, menggelar pameran. Tentu untuk mendapatkan stand tidaklah mudah, karena harga standnya terlalu mahal.
Untuk mengatasi itu, CH Dudung dan teman-teman mengandalkan penjualan kerajinan tangan mereka melalui door to door. Hasil penjualan itu dikumpulkan untuk membeli keperluan bahan kerajinan, sisanya ditabung.
 “Yah, tapi saya tetap optimis, sampah-sampah ini tetap akan menjadi emas. Itu sudah saya buktikan dan hasilnya memang sangat memuaskan. Sekarang kader binaan kita sangat antusias mengolah sampah menjadi barang yang berharga. Hasilnya, lingkungan tempat tinggal kami menjadi bersih, rapi dan nyaman,” pungkasnya.
CH Dudung pun punya ambisi, kedepan mereka akan melakukan kerjasama dengan Rumah Zakat di Jalan Setia Budi. Nantinya, jika kerjasama itu terjalin, system yang akan dilaksanakan adalah menukar ‘sampah-sampah’ yang berharga ini dengan sembako, sehingga kader binaannya bisa terbantu dari segi ekonomi


Sumber : http://beritasore.com/2013/09/06/membuktikan-sampah-bisa-jadi-emas/

Kenaikan Dolar Bawa Berkah Perajin Gerabah



BANTUL, - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membawa rejeki sendiri bagi para perajin gerabah di Kasongan, Bantul.
Sejak nilai tukar uang rupiah terhadap dolar melemah, menurut para perajin gerabah di desa itu mengalami kenaikan omset pengrajin naik 15 persen. Kondisi demikian ini, membuat para perajin gerabah maupun handycraf agak tersenyum lega, karena banyak pesanan dari mancanegara.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Bantul, Sulistyanto, mengatakan dengan harga dolar sekarang pengrajin memperoleh keuntungan, meski harga tidak dinaikkan, namun omset pedagang naik 10-15 persen.
"Harganya memang tidak naik, namun menguntungkan. jika dahulu 1 dolar hanya mendapatkan 2 biji sekarang dapat 3 biji,'' katanya, Rabu (18/9).
Meski tidak ada kenaikan harga, namun kenaikan omset mampu meningkatkan pendapatan pengrajin. Menurutnya, dampak kenaikan omset itu sangat besar bagi pengrajin. Karena bisa menaikkan pendapatan yang cukup lumayan.
Dijelaskan Sulis, peningkatan nilai dolar dinikmati oleh seluruh pengrajin di kabupaten bantul seperti gerabah, batik kayu dan mebel. ''Semua kerajinan menikmati, mebel paling besar menikmati keuntungan,'' ujarnya.
Ia menambahkan, kerajianan tangan dari kabupaten Bantul mampu bersaing dengan produk kerajinan dari negara lain. Seperti dari Vietnam, Thailand. Malaysia dan sebagainya. ''beberapa waktu yang lalu saat kita melakukan pameran di China, salah satu pengrajin Gebyok mendapatkan pesanan hingga 1,2 milyar,'' katanya.
Sebelumnya, Purwanto, pengrajin gerabah yang ada di Kasongan, mengakui ada kenaikan ekspor, setiap bulan bisa kirim dua kontainer yang berisi gerabah yang dikirim ke luar negeri.
Pengiriman itu kebanyakan ke negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Biasanya, tambah dia,  satu bulan belum tentu mengirim, tapi kali ini dalam satu bulan bisa kirim dua kontainer.


Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/09/19/172542/Kenaikan-Dolar-Bawa-Berkah-Perajin-Gerabah

PKK Tulungagung Memborong Produk UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) Purbalingga






Daftar isi






Pelaku UMKM Sumringah

PURBALINGGA,  - Wajah-wajah pelaku UMKM yang menggelar produknya di Pendapa Dipokusumo sumringah, Kamis (19/9). Sebab beraneka produk yang ditata di atas meja diborong ibu-ibu pengurus PKK dari Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Para ibu PKK itu sedang mengikuti studi banding di PKK Purbalingga. Usai acara seremonial penerimaan rombongan oleh Wakil Ketua PKK Kabupaten Purbalingga Erna Sukento, para ibu itu langsung menyerbu produk UMKM yang digelar.
Kasi Pembinaan dan Pengembangan UMKM pada Dinperindagkop Adi Purwanto mengaku takjub dengan apa yang dia saksikan di Pendapa Dipokusumo itu. Karena angka penjualan dalam waktu singkat itu hampir menembus Rp 5 juta.
''Wow, dahsyat. Hanya dalam hitungan menit saja jutaan rupiah sudah berpindah tangan dari ibu-ibu PKK Tulungagung ke para pengusaha mikro dan kecil Purbalingga. Hampir menembus Rp 5 jutaan,'' kata Adi sambil geleng-geleng kepala.

Laris Manis

Dia menambahkan, selain batik yang laris, produk lain juga dibeli para tamu itu. Antara lain sepatu, kerajinan bambu, kerajinan batok kelapa, sapu gelagah, makanan tradisional mino, kacang, tomat rasa korma (torama), dan klanting marning.
Transaksi untuk produk makanan mino dan variasinya hampir mencapai Rp 1,3 juta dalam sekali belanja itu. Sedangkan produk sepatu sekitar Rp 900.000. ''Seandainya setiap hari laris seperti ini maka pelaku UMKM bisa sejahtera. Kami berusaha memfasilitasi pelaku UMKM untuk menggelar produknya setiap kali ada even yang mengundang tamu dari luar daerah,'' katanya.

Program Jemput Bola

Program jemput bola UMKM ini, lanjutnya, akan dilakukan secara aktif. Begitu ada informasi ada kegiatan yang mengundang tamu dari luar daerah maka Dinperindagkop akan koordinasi dengan panitia agar disediakan waktu dan tempat untuk jualan.
''Pokoknya kalau berkunjung ke Purbalingga, para tamu itu harus keluar banyak uang untuk membeli produk perajin kita. Karenanya kami mengimbau kepada stakeholder untuk menginformasikan bila ada kegiatan semacam itu,'' tuturnya.
Adi menambahkan, produk UMKM banyak diborong orang antara lain karena perajin telah melakukan modifikasi produknya. Produk itu dibuat beda dengan yang lain, misalnya dari segi bentuk, kemasan, atau citarasa.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/09/20/172678/Produk-UMKM-Purbalingga-Diborong-PKK-Tulungagung
 
Support : Sitemap | Biografi Tokoh | Galang Kreatif
Copyright © 2013. Membuat Kerajinan Tangan - All Rights Reserved
Created by Kerajinan Tangan Published by Kerajinan Tangan
Proudly powered by Blogger